Sabtu, 29 Februari 2020

Menelisik lebih jauh novel “Daun yang jatuh Tak Pernah membenci Angin”


Hasil gambar untuk gambar novel daun yang jatuh tak pernah membenci angin




Judul buku:     Daun yang jatuh Tak Pernah membenci Angin
Penulis:         Tere-Liye
Penerbit:        PT. Gramedia Pustaka
Tebal buku:     246 halaman
Harga buku:     Rp 44.000




Tere-Liye yang berasal dari Sumatera Selatan lahir pada tanggal 21 Mei 1979. Tere liye bersekolah di Palembang saat dirinya memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA). Tere liye bukanlah nama aslinya, namun nama yang sesungguhnya adalah Darwis, Tere liye hanyalah sebagai nama pena di karya-karya tulisannya.
Setelah tamat SMA ia melanjutkan masa kuliahnya di Jakarta, yaitu di Universitas Indonesia pada fakultas ekonomi. Saat ini pasangan Tere liye dan Faizah Askia dianugerahi 2 orang anak. Tere liye pun menjadi karyawan disebuah perusahaan sebagai seorang akuntan, bagi Tere menulis adalah hobi saat di waktu luangnya.


Hasil gambar untuk gambar karya film tere liye
Hasil gambar untuk gambar karya film tere liye


Karyanya juga sudah ada yang di film kan yaitu Hafalan Shalat Delisa, Moga Bunda Disayang Allah.
Ciri khas penulisan Tere liye didalam novel-novelnya selalu mengisahkan tentang kesedihan, kehilangan, dan kematian yang dialami para tokohnya. Tere liye sering menggunakan alur maju mundur dalam novelnya. Tere liye sering menggunakan tokoh wanita dan sudut pandang perasaan da nisi hati seorang wanita dalam novelnya. Tere liye tidak pernah menuliskan identitas atau biografinya didalam setiap novel-novelnya.

Sinopsis dari novel ini, yaitu:

“Aku yang dipertemukan dengan seorang malaikat yang merenggut kami dari perihnya hidup dijalanan dan miskin. Malaikat yang selalu memberikan perhatian kepada kami dengan sepenuh hati, merubah kehidupan kami menjadi lebih baik, dan memberikan pendidikan yang cukup.

Seiring waktu, kebaikan dan perhatiannya malah menjadikan perasaan dalam hatiku.
Aku membalasnya dengan membiarkan perasaan ini semakin menjadi-jadi. Namun seiringnya waktu, aku sadar bahwa perasaan ini salah, seharusnya aku tak membiarkannya bertambah. Karena malaikatku hanya menganggapku sebagai adik tak lebih.

Aku hanyalah manusia biasa yang harus menerima takdir yang telah Tuhan berikan, seperti daun yang jatuh tak pernah membenci angin.”

Hasil gambar untuk gif love



Hasil gambar untuk gambar bergerak kecewa













Hasil gambar untuk gambar bergerak cinta


Novel ini bertemakan cinta, salah satu kutipannya terdapat pada bagian 2 halaman 39 yaitu “Kak Ratna amat cantik, rambutnya panjang, dan pakaiannya modis. Seperti artis-artis itu. Badannya wangi. Mukanya bermake-up tipis. Cantik sekali. Sepanjang kami di Dunia Fantasi, Kak Ratna selalu berdiri di sebelahnya. Berjalan bersisian, bergandengan tangan. Mesra.”
                                                            


Alur dari novel ini adalah campuran, bisa dilihat pada bagian 1 halaman 17 yang berkutipan menujukkan alur mundur yaitu “Kalian tak akan pernah menyangka, seperti apa rupa Tania sepuluh tahun silam saat masuk ke toko buku ini untuk pertama kalinya.” Kita juga dapat melihat alur maju pada bagian terakhir halaman 254 yaitu “Katakanlah… apa kau mencintaiku?” aku berbisik lirih. Berdiri. Menatap mata redupnya. Jarak kami hanya selangkah. “Katakanlah… walau itu sama sekali tidak berarti apa-apa lagi.” Diam senyap. Dia membisikkan sesuatu. Desau angina malam menerbangkan sehelai daun pohon linden. Jatuh diatas rambutku. Aku memutuskan pergi.”
Kutipan tersebut menunjukan bahwa Tania yang lebih memilih untuk melanjutkan hidupnya di Singapura.

Dalam novel ini memiliki beberapa tokoh tetapi saya hanya mengambil beberapa tokoh yaitu Tania sebagai tokoh utama. Watak yang dimilikinya adalah pencemburu, pandai menahan perasaan dan pintar. Tokoh selanjutnya adalah Danar atau yang biasanya dipanggil “Oom Danar” watak dari tokoh ini adalah penyayang, dermawan,  baik hati, dan penolong. Watak Danar dapat dilihat dari salah satu kutipannya pada bagian 1 halaman 23 yaitu “Dia beranjak dari duduknya,mendekat. Jongkok dihadapanku. Mengeluarkan saputangan dari saku celana. Meraih kaki kecilku yang kotor dan hitam karena bekas jalanan. Hati-hati membersihkannya dengan ujung saputangan. Kemudian membungkusnya perlahan-lahan. Aku terkesima, lebih karena menatap betapa putih dan bersihnya saputangan itu. “Kamu seharusnya pakai sandal,” dia berkata sambil mengikat perban tersebut. “

Kutipan tersebut sudah menjelaskan bahwa watak Danar adalah perhatian. Dan tokoh-tokoh lainnya ada Ibu,Dede adik lelakinya Tania, dan Kak Ratna sebagai kekasih dari Oom Danar.
Novel ini berlatarkan di toko buku, China Town (restoran), Bandara Changi.
Sudut pandangnya yaitu orang pertama karena tokoh utama menggunakan kata “aku” pada cerita novel ini. Dan novel ini juga mengandung nilai moral dan menyayangi sesama manusia.


Novel ini memberikan kita pengetahuan bahwa dalam melakukan hal apapun kita harus tetap menerimanya dengan lapang dada, ikhlas dan tetap berusaha dengan kemampuan yang kita miliki. Dan memberikan sedikit cerita bahwa segala apapun keinginan kita tidak akan tercapaikan. Tinjauan bahasa yang mudah dimengerti.


Tetapi, novel ini juga ada beberapa kata yang terdapat kesalahan cetak.
Hasil gambar untuk gambar bergerak cinta



Karena novel ini menceritakan tentang kisah cinta, Tania yang hanya baru 11 tahun mencintai Oom Danar. Akan menjadikan contoh yang tidak baik kepada anak yang dibawah umur apabila membaca novel berjudul Daun yang jatuh Tak Pernah membenci Angin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar