Judul
buku: Daun yang jatuh Tak Pernah
membenci Angin
Penulis: Tere-Liye
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka
Tebal buku: 246 halaman
Harga buku: Rp 44.000
Tebal buku: 246 halaman
Harga buku: Rp 44.000
Tere-Liye yang berasal dari Sumatera Selatan lahir pada tanggal 21 Mei 1979. Tere liye bersekolah di Palembang saat dirinya memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA). Tere liye bukanlah nama aslinya, namun nama yang sesungguhnya adalah Darwis, Tere liye hanyalah sebagai nama pena di karya-karya tulisannya.
Setelah tamat SMA ia melanjutkan masa
kuliahnya di Jakarta, yaitu di Universitas Indonesia pada fakultas ekonomi.
Saat ini pasangan Tere liye dan Faizah Askia dianugerahi 2 orang anak. Tere
liye pun menjadi karyawan disebuah perusahaan sebagai seorang akuntan, bagi
Tere menulis adalah hobi saat di waktu luangnya.
Ciri khas penulisan Tere liye didalam
novel-novelnya selalu mengisahkan tentang kesedihan, kehilangan, dan kematian
yang dialami para tokohnya. Tere liye sering menggunakan alur maju mundur dalam
novelnya. Tere liye sering menggunakan tokoh wanita dan sudut pandang perasaan
da nisi hati seorang wanita dalam novelnya. Tere liye tidak pernah menuliskan
identitas atau biografinya didalam setiap novel-novelnya.
Sinopsis
dari novel ini, yaitu:
“Aku yang dipertemukan dengan seorang malaikat yang merenggut kami dari perihnya hidup dijalanan dan
miskin. Malaikat yang selalu
memberikan perhatian kepada kami dengan sepenuh hati, merubah kehidupan kami
menjadi lebih baik, dan memberikan pendidikan yang cukup.
Seiring waktu, kebaikan dan perhatiannya malah menjadikan
perasaan dalam hatiku.
Aku membalasnya dengan membiarkan perasaan ini semakin
menjadi-jadi. Namun seiringnya waktu, aku sadar bahwa perasaan ini salah,
seharusnya aku tak membiarkannya bertambah. Karena malaikatku hanya menganggapku sebagai adik tak lebih.
Aku hanyalah manusia biasa yang harus menerima takdir yang
telah Tuhan berikan, seperti daun yang jatuh tak pernah membenci angin.”


Novel ini bertemakan cinta, salah satu kutipannya terdapat pada bagian 2 halaman 39 yaitu “Kak Ratna amat cantik, rambutnya panjang, dan pakaiannya modis. Seperti artis-artis itu. Badannya wangi. Mukanya bermake-up tipis. Cantik sekali. Sepanjang kami di Dunia Fantasi, Kak Ratna selalu berdiri di sebelahnya. Berjalan bersisian, bergandengan tangan. Mesra.”
Alur dari novel ini adalah campuran, bisa dilihat pada bagian 1 halaman 17 yang berkutipan menujukkan alur mundur yaitu “Kalian tak akan pernah menyangka, seperti apa rupa Tania sepuluh tahun silam saat masuk ke toko buku ini untuk pertama kalinya.” Kita juga dapat melihat alur maju pada bagian terakhir halaman 254 yaitu “Katakanlah… apa kau mencintaiku?” aku berbisik lirih. Berdiri. Menatap mata redupnya. Jarak kami hanya selangkah. “Katakanlah… walau itu sama sekali tidak berarti apa-apa lagi.” Diam senyap. Dia membisikkan sesuatu. Desau angina malam menerbangkan sehelai daun pohon linden. Jatuh diatas rambutku. Aku memutuskan pergi.”
Kutipan tersebut menunjukan bahwa Tania yang lebih memilih
untuk melanjutkan hidupnya di Singapura.
Dalam novel ini memiliki beberapa tokoh tetapi saya hanya
mengambil beberapa tokoh yaitu Tania sebagai tokoh utama. Watak yang
dimilikinya adalah pencemburu, pandai menahan perasaan dan pintar. Tokoh
selanjutnya adalah Danar atau yang biasanya dipanggil “Oom Danar” watak dari
tokoh ini adalah penyayang, dermawan,
baik hati, dan penolong. Watak Danar dapat dilihat dari salah satu
kutipannya pada bagian 1 halaman 23 yaitu “Dia beranjak dari duduknya,mendekat.
Jongkok dihadapanku. Mengeluarkan saputangan dari saku celana. Meraih kaki
kecilku yang kotor dan hitam karena bekas jalanan. Hati-hati membersihkannya
dengan ujung saputangan. Kemudian membungkusnya perlahan-lahan. Aku terkesima,
lebih karena menatap betapa putih dan bersihnya saputangan itu. “Kamu
seharusnya pakai sandal,” dia berkata sambil mengikat perban tersebut. “
Kutipan tersebut sudah menjelaskan bahwa watak Danar adalah
perhatian. Dan tokoh-tokoh lainnya ada Ibu,Dede adik lelakinya Tania, dan Kak
Ratna sebagai kekasih dari Oom Danar.
Novel ini berlatarkan di toko buku, China Town (restoran), Bandara Changi.
Sudut pandangnya yaitu orang pertama karena tokoh utama
menggunakan kata “aku” pada cerita novel ini. Dan novel ini juga mengandung
nilai moral dan menyayangi sesama manusia.
Novel ini memberikan kita pengetahuan bahwa dalam melakukan
hal apapun kita harus tetap menerimanya dengan lapang dada, ikhlas dan tetap
berusaha dengan kemampuan yang kita miliki. Dan memberikan sedikit cerita bahwa
segala apapun keinginan kita tidak akan tercapaikan. Tinjauan bahasa yang mudah
dimengerti.
Tetapi,
novel ini juga ada beberapa kata yang terdapat kesalahan cetak.
Karena novel ini menceritakan tentang kisah cinta, Tania yang hanya baru 11 tahun mencintai Oom Danar. Akan menjadikan contoh yang tidak baik kepada anak yang dibawah umur apabila membaca novel berjudul Daun yang jatuh Tak Pernah membenci Angin.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar